Pendahuluan
ICE Institute adalah Indonesia Cyber Education Institute, merupakan pusat kuliah daring yang terakreditasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menyediakan bermacam kuliah dalam jaringan (daring) dari banyak Perguruan Tinggi dan penyedia pembelajaran daring di seluruh Indonesia.
Tujuan utama dari ICE Institute adalah untuk memfasilitasi penyediaan pendidikan berkualitas sekaligus menjamin kualitas layanan pembelajaran daring dan pendidikan daring. Lewat ICE Institute, pengguna akan termudahkan dalam memilih kuliah daring yang tepat untuk pengembangan karir di era Industri 4.0
ICE Institute adalah jawaban untuk menyongsong era revolusi industri 4.0 yang telah mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan menjadi holistik, bukan lagi parsial.
Dalam era revolusi industri 4.0 segala hal menjadi tanpa batas (borderless) dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited). Ini terjadi karena dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin.
Selain untuk menghadapi era industri 4.0, ICE Institute diharapkan mampu berperan dalam peningkatan perluasan akses dan pemerataan kualitas pendidikan untuk mendorong Angka Partisipasi Kasar (APK) menjadi 40%. ICE Institute juga akan membantu pemenuhan kebutuhan lifelong learner melalui penyediaan sistem dan konten pembelajaran bermutu yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun.
Panduan ini disusun bagi Perguruan Tinggi yang akan membuka kelas perkuliahan daring di laman ICE Institute yang bersifat self-paced learning. Menurut Southard et al. (2015) bahwa the self-paced online course is a relatively new and rare variation of an online course within the traditional university forum. Tipe pembelajaran bersifat self-paced merupakan suatu format pembelajaran baru dari pembelajaran daring. Gerlich et al. (2009) menambahkan bahwa self-paced learning is 100% online course, there is little or no synchronicity between the student and the professor. Pembelajaran self-paced diselenggarakan secara asinkronus. Peserta didik dapat menyesuaikan kemampuan dan kecepatan mereka dalam menyelesaikan pembelajarannya (Southard et al., 2015).
Defenisi Self-Paced Online Learning
Demi memenuhi kebutuhan pembelajar, program pembelajaran secara daring juga disesuaikan tingkat kemampuan pembelajar. Terkait dengan kemampuan yang berbeda beberapa pembelajar ada yang membutuhkan banyak waktu untuk memahami materi yang diberikan dan bahkan sebaliknya.
Salah satu tipe program pembelajar yang ditawarkan adalah self-paced learning. Tipe ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran mandiri yang memungkinkan pembelajar atau pemelajar belajar kapan saja, dimana saja secara online. Pembelajar dapat menyelesaikan tugas belajar dengan kecepatan yang disesuaikan dengan tingkat penguasaan pribadi mereka. Ini berarti mereka mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi yang mereka pelajari, memahami topik yang mencakup materi yang sudah mereka ketahui, atau mengulang topik sesuai kebutuhan (Bray & McClaskey, 2010).
Tipe pembelajaran ini tidak mengikuti jadwal tertentu, tetapi sebaliknya memungkinkan peserta untuk mengatur langkah mereka sendiri dengan memilih materi pembelajaran dan metode yang ditawarkan. Ditinjau dari segi asesmen, penilaian tugas akan terkomputerisasi dan bergantung pada kunci jawaban yang diberikan sebelumnya, tetapi dalam beberapa kasus, tutor atau instruktur akan dapat menandakan suatu tugas ketika diserahkan selama pembelajaran.
Self-paced learning dengan diyakini dapat menciptakan pembelajaran yang optimal karena pemelajar dapat menentukan kemampuannya, memutuskan kecepatan, dan waktu pengalaman belajar mereka. Peserta secara aktif terlibat dalam melakukan tugas-tugas pembelajaran tertentu dan mengalami keberhasilan dalam pembelajaran. Metode belajar ini juga disebut pembelajaran self-directed learning.
Dengan kata lain, self-paced learning adalah metode pembelajaran daring yang memungkinkan pengguna atau pemelajar dapat belajar secara mandiri melalui konten dan learning management system (LMS). LMS adalah perangkat lunak (software yang didesain untuk mengelola seluruh kegiatan pembelajaran secara online/digital) yang sudah disiapkan. Self-paced learning tidak memerlukan kehadiran trainer/tutor karena seluruh kegiatan pembelajaran (mulai dari kegiatan pembukaan, akses modul, sampai dengan kegiatan evaluasi) berada dalam satu paket.
Perancangan Mata Kuliah Self-Paced Learning
Panduan ini membahas tentang desain pengembangan program pembelajaran online dengan bentuk self-paced learning termasuk desain pembuatan materi kursus online. Pengembangan program pembelajaran itu tidak jauh berbeda dari pengembangan pembelajaran yang disajikan secara daring pada umumnya.
Tahapan awal dalam pengembangan mata kuliah daring (pembelajaran) adalah melalui tahap perancangan pembelajaran sehingga menghasilkan sebuah silabus yang relevan dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), kebutuhan peserta, kebutuhan program studi, dan kebutuhan industri/job market, serta mengakomodasi beberapa level taksonomi.
1 - Gambar 1. Taksonomi Bloom Digital (sumber: https://teachonline.asu.edu/)Tahap I: Analisis
Beberapa komponen yang harus dipersiapkan sebelum mengembangkan materi pembelajaran adalah:
- Rumusan Deskripsi Mata Kuliah
- Identifikasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)
- Identifikasi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) berdasarkan CPL.
- Rumusan sub-CPMK yang sesuai dengan CMPK.
- Analisis tiap tahapan pembelajaran sesuai durasi yang diperlukan.
- Analisis Learning Object (LO), media, dan perangkat pembelajaran yang diperlukan yang sesuai dengan CPMK.
- Rumusan panduan belajar.
- Panduan bagi pengguna untuk mengakses mata kuliah pada Open edX System atau menggunakan LMS lain.
- Artikel yang terkait dengan mata kuliah.
Tahap II: Desain
Pembelajaran self-paced learning diselenggarakan secara asynchronous. Pembelajaran asynchronous merupakan pembelajaran daring yang menyediakan berbagai LO dan forum diskusi yang dapat diakses oleh peserta kapan saja dan darimana saja dalam rentang waktu yang telah ditentukan (sesi/babak/inisiasi) namun tidak dapat berinteraksi atau berdiskusi secara langsung di waktu yang bersamaan.
Tahap III: Pengembangan
Tahap pengembangan terkait dengan materi utama, materi pengayaan, dan asesmen yang memungkinkan peserta dapat mengatur sendiri kemampuan dan kecepatan belajar.
- Mengembangkan beragam LO dalam format teks, gambar, grafis, audio, video/audio visual, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
- Mengembangkan beragam media pembelajaran daring untuk mewadahi LO yang dikembangkan.
- Mengembangkan asesmen berupa kuis, tugas, proyek, dan lain-lain yang ternilai secara sistem.
- Mengembangkan forum diskusi yang memungkinkan antarpeserta berdiskusi di dalam kelas daring.
Saat menentukan aktivitas yang akan disertakan dalam pembelajaran, sertakan aktivitas yang:
- Berkaitan langsung dengan tujuan unit.
- Memungkinkan untuk praktek keterampilan.
- Memunculkan minat pembelajar.
- Berkaitan dengan semua domain pembelajaran.
Tahap IV: Implementasi
- Melaksanakan pelatihan bagi dosen yang akan mengembangkan materi untuk self-paced learning.
- Melaksanakan self-paced learning secara daring.
Tahap V: Evaluasi
- Mengevaluasi proses pembelajaran daring.
- Menghasilkan data dan saran untuk perbaikan kualitas pembelajaran daring selanjutnya.
Pengembangan Learning Object (LO)
Istilah materi pembelajaran yang digunakan di ICE Institute adalah Learning Object (LO). Secara umum, konsep pengembangan LO dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu: membuat sendiri, mengadaptasi, atau mengadopsi. LO yang digunakan di dalam pembelajaran daring bisa bermacam-macam jenis. Pemilihan jenis LO disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan tetap memperhatikan jenis lisensi yang dipakai, yaitu Copyright, Copyleft, atau Creative Commons. Berikut adalah beberapa format LO yang dapat digunakan.
Teks
LO dalam format teks dapat dikemas dalam media ebook, ejournal, epaper, emagazine (pdf, epub, dan sebagainya), Word, PowerPoint, dan sebagainya. LO format teks juga dapat dipadukan dengan LO format lain agar lebih menarik dan membantu memudahkan pemahaman bagi pembaca, misalnya dipadukan dengan gambar sebagai ilustrasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan LO jenis teks adalah:
- Ukuran huruf harus mudah untuk dilihat dan dibaca
- Jenis huruf yang mudah terbaca
- Warna huruf yang dipilih dapat membuat teks yang jelas dan mudah terbaca.
Jika mengadopsi LO format teks dari ejournal atau ebook tertentu, maka perlu dipertimbangkan aksesnya. Pilihlah ejournal atau ebook yang bersifat open journal dan hindari jurnal abal-abal atau jurnal predator.
Contoh LO kombinasi teks dan gambar
2 - Contoh kombinasi LO teks dan gambarGambar
Penggunaan LO dalam format gambar perlu memperhatikan:
- Jenis file gambar yang dipakai harus memperhitungkan tingkat interoperabilitasnya. Gunakan jenis file gambar seperti JPG, JPEG, PNG, dan sebagainya yang lebih umum agar dapat digunakan di berbagai perangkat.
- Ukuran piksel gambar harus diperhitungkan agar tidak pecah ketika diperbesar.
- Jika diperlukan, teks dapat ditambahkan atau dikombinasikan di dalam penggunaan LO gambar.
Audio
Penggunaan LO dalam format audio perlu mempertimbangkan jenis file. Jenis file seperti MP3, M4A, OGG, dan sebagainya. Pilihlah jenis file yang lebih umum digunakan oleh banyak perangkat. Jika mengadopsi LO format audio dari sumber tertentu maka harus memperhatikan jenis lisensi, aksesibilitas, interopabilitas, dan ukuran file.
Contoh LO Audio
4 - LO format audio (sumber: British Council)Video
Penggunaan LO dalam format video perlu mempertimbangkan:
Jenis file seperti AVI, MP4, MPEG, MKV, dan sebagainya. Pilihlah jenis file yang lebih umum digunakan oleh banyak perangkat. Jika mengadopsi LO format video dari sumber tertentu maka harus memperhatikan jenis lisensi, aksesibilitas, interopabilitas, dan ukuran file.
Infografis
Dirangkum dari uprint.id , penggunaan LO dalam format infografis perlu mempertimbangkan:
1. Flow dan Style
Pada umumnya, infografis memiliki flow dari atas ke bawah atau dari kiri ke samping dengan format vertikal. Sebuah infografis harus memiliki tampilan visual yang mampu menarik pembaca untuk melihatnya. Oleh sebab itu, gunakan palet warna dan tetap konsisten pada format style yang dipilih.
2. Data Story
Meskipun pada umumnya infografis menyajikan data berupa grafis atau angka-angka yang menunjukkan nilai statistik tertentu, cantumkan sedikit narasi atau cerita dari data tersebut sebagai prolognya. Tidak mungkin hanya tiba-tiba menyertakan grafis data setelah judul, bukan? Agar lebih mudah dimengerti, sertakan beberapa kata atau kalimat yang mendukung data. Jangan terlalu panjang karena justru bisa membuat orang malas membacanya.
Kemas dalam Bentuk Hirarki
Info yang disajikan dalam bentuk hirarki atau bercabang-cabang layaknya pohon membuatnya mudah dipahami. Pada beberapa poin tertentu, bisa mencantumkan warna yang berbeda untuk menunjukkan penekanan. Selain warna, bisa bermain dengan spasi, font style, angka, dan ukuran huruf. Ini bertujuan untuk menarik perhatian pembaca. Bisa juga menambahkan beberapa efek seperti bold, italic, dan menggunakan huruf kapital asal tidak terlalu berlebihan dan tetap memperhatikan estetika.
Jarak Spasi
Infografis dituntut untuk bisa menyajikan info secara menyeluruh dengan ruang kerja yang minim. Meskipun begitu, perlu diingat bahwa sebaiknya tidak menyertakan terlalu banyak teks untuk penyajian informasi karena bisa membuat jenuh pembaca. Selalu sisakan ruang kosong atau spasi. Spasi ini berguna untuk menyeimbangkan teks, gambar dengan ukuran besar, dan desain itu sendiri.
6 - LO Infografis Sumber www.icei.ac.idChart, Tabel, Grafik
Penggunaan LO dalam format chart, tabel, dan grafik harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
- Kejelasan dan keterbacaan data
- Kesesuaian antara data dan jenis chart, tabel, grafik yang digunakan
- Keseimbangan tampilan (proporsi data yang tampil, pembagian warna, dan sebagainya).
- Keindahan desain yang menarik
Kelengkapan informasi penjelasan seperti misalnya penjelasan simbol atau warna tertentu yang digunakan.
7 - Contoh desain 3D Pie Chart (Sumber: https://i.ytimg.com/vi/zljSZch0v24/maxresdefault.jpg)Augmented Reality (AR)/Virtual Reality (VR)
Perkembangan teknologi AR/VR memungkinkan pembelajaran dilakukan secara lebih nyata meskipun pada kenyataannya seluruh tampilan digital tersebut adalah di dunia maya. Beberapa rangkuman teknologi AR/VR yang dapat digunakan di dalam proses pembelajaran.
Penyelenggaraan Pembelajaran Self-Paced
Dalam tahap persiapan self-paced learning, PT penyelenggara melalui para dosen pengampu dapat melakukan aktifitas berikut.
Memasukkan sapaan dalam bentuk teks dan video di halaman pra-sesi atau sesi pendahuluan. Di dalamnya dapat memuat identitas pembelajaran, seperti:
- kode dan nama pembelajaran,
- jumlah SKS,
- identitas dosen (nama, email, foto/video sapaan),
- melampirkan silabus
- deskripsi MK,
- narasi CPMK,
- jumlah sesi yang akan ditempuh oleh peserta,
- aktifitas apa saja yang harus dilakukan oleh peserta,
- aturan kelas daring (penyampaian tentang plagiarism consent),
- asesmen terhadap capaian pembelajaran peserta,
- salam penutup.
Membuat sapaan pembuka untuk setiap sesi sekaligus memberi informasi kepada peserta tentang sub-CPMK yang akan dicapai pada setiap sesi. Lalu akhiri dengan salam penutup dan salam penyemangat.
Memasukkan kelengkapan LO pada setiap sesi. Dalam proses ini, dosen harus mengecek satu per satu LO apakah semuanya berfungsi secara normal (dapat dibuka/dijalankan).
Pengelolaan pembelajaran daring
Pengelolaan pembelajaran daring perlu memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut yang dikutip dari Penn State’s World Campus.
a. Berlatih strategi manajemen pembelajaran yang proaktif
Contoh strategi manajemen pembelajaran proaktif meliputi: memantau pengiriman tugas, berkomunikasi dengan peserta, mengingatkan peserta tentang tenggat waktu yang terlewat atau akan datang, dan membuat penyesuaian pembelajaran di mana dan kapan saja diperlukan.
Dosen harus menetapkan ekspektasi yang jelas dan terdefinisi untuk peserta dan mengkomunikasikannya secara efektif sehingga peran dan tanggung jawab dosen dan peserta ditentukan dengan jelas.
10 - Ilustrasi manajemen pembelajaran (sumber: https://www.germantownacademy.net/)
B. Bersiaplah untuk kemungkinan gangguan teknis.
Komunikasikan setiap perubahan tak terduga kepada peserta untuk mengurangi tingkat stres dan kecemasan yang terkait dengan perubahan pada pola pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
11 - Ilustrasi gangguan teknis pada system/jaringan (sumber: https://www.seo.organic/)
C. Tetapkan proses yang tepat waktu dalam menilai tugas peserta
Dosen harus mengembangkan rencana tentang bagaimana tugas akan dinilai dan dikembalikan kepada peserta pada waktu yang tepat dan memberi tahu peserta tentang kapan nilai ditampilkan by system.
12 - Ilustrasi manajemen waktu pembelajaran (sumber: https://www.facultyfocus.com/)
d.Umpan Balik/Feedback
Dosen harus menyiapkan umpan balik untuk setiap asesmen by system sehingga peserta mengetahui perkembangan belajar mereka.
Setidaknya ada tiga jenis umpan balik, yaitu korektif, direktif/sugestif, dan epistemik.
- Umpan balik korektif (single loop) adalah umpan balik sederhana yang berisi seperti: ya/tidak, benar/salah, atau lulus/gagal.
- Umpan balik sugestif/direktif (double loop) adalah umpan balik yang menjelaskan, misalnya, suatu prosedur dapat diubah atau dimodifikasi.
- Umpan balik epistemik adalah gabungan antara umpan balik korektif dan direktif yang ditambahkan penjelaskan mengapa suatu hal/benda/dan sebagainya terjadi, terbentuk, hancur, dan sebagainya. Umpan balik dapat didesain dan diberikan secara otomatis pada kegiatan pembelajaran tertentu, seperti: pada kuis dan forum diskusi.
Beberapa karakteristik umpan balik yang baik menurut berbagai hasil penelitian berbeda-beda adalah sebagai berikut:
- Umpan balik harus relevan dengan materi atau tugas pembelajaran yang sedang berjalan. (Hattie, J., dan Timperley, H., 2007)
- Umpan balik harus diberikan dalam jeda waktu yang cepat. (Gallien dan Oomen-Early, 2008; Afify, 2018; Tanis, 2020)
- Umpan balik harus konstruktif bagi perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman peserta. (Lee, 2014)
- Umpan balik dapat diberikan dalam bentuk tertulis atau audiovisual. (Morris dan Chikwa, 2016)
- Waktu untuk penyampaian umpan balik harus dikelola agar dosen dapat memberikannya secara konsisten. (Evans, dkk., 2020)
- Umpan balik harus diberikan secara jelas dan padat. (Gregory, Levy, dan Jeffers, 2008).
ASESMEN
Secara umum, asesmen terbagi ke dalam dua jenis yaitu formatif dan sumatif. Asesmen formatif adalah the process of seeking and interpreting evidence for use by learners and their teachers to decide where the learners are in their learning, where they need to go and how best to get there (Assessment Reform Group (ARG), 2002). Asesmen sumatif adalah the reflection of what students have learned in the past (Ahmed, Ali, Shah, 2019). Khusus untuk mata kuliah yang dikembangkan dengan mode pembelajaran Self-Paced, tipe asesmen formatif yang disarankan dalam bentuk multiple choice sehingga penilaian/grading dapat dilakukan secara otomatis melalui sistem.
14 - Asesmen formatif dan sumatif (sumber: https://www.sheffield.ac.uk/)Dalam pembelajaran daring di ICE Institute, asesmen terhadap peserta berfungsi juga untuk menentukan apakah peserta dapat memeroleh sertifikat kredensial mikro dari pembelajaran yang telah diikuti dan diselesaikan.
Jenis-jenis Asesmen
Asesmen dalam pembelajaran daring dapat menggunakan fitur penilaian dan umpan balik otomatis sehingga lebih membantu dosen dan peserta. Beberapa jenis asesmen yang dapat diimplementasikan pada pembelajaran daring secara Self-Paced dalam sistem ICE Institute adalah sebagai berikut.
a. Checkboxes with Hints and Feedback
15 - Jenis Jenis AsesmenDalam asesmen jenis ini, pemelajar memilih satu atau beberapa opsi dari daftar kemungkinan jawaban. Untuk menjawab soal dengan benar, seorang pemelajar harus memilih semua pilihan jawaban yang benar dan tidak ada satu pun pilihan yang salah. Dosen pengampu harus menyiapkan pertanyaan disertai beberapa pilihan jawaban dengan setidaknya satu jawaban yang benar. Sebaiknya, pastikan bahwa semua pilihan jawaban tidak ambigu. Jawaban dengan ambiguitas dapat membuat pemelajar frustasi. Lihat Contoh di bawah ini.
16 - Contoh Jenis Asesmen CheckboxesBerikut adalah cara mengembangkan asesmen checkboxes dengan feedback.
17 - Cara mengembangkan asesmen checkboxes dengan feedback
b. Multiple Choice/ Pilihan Ganda with Hints and Feedback
Dalam asesmen jenis ini, pemelajar memilih satu pilihan dari daftar pilihan jawaban. Multiple Choice juga dapat memiliki beberapa opsi lanjutan, seperti menyusun ulang, mengacak, dan kumpulan pilihan jawaban untuk setiap pemelajar. Contoh pertanyaan pilihan ganda seperti berikut.
18 - Jenis Asesmen Multiple Choice/ Pilihan GandaBerikut adalah cara mengembangkan asesmen multiple choice/ pilihan ganda dengan feedback.
19 - Cara mengembangkan asesmen multiple choice/ pilihan ganda dengan feedback
c. Dropdown with Hints and Feedback
Dalam asesmen jenis ini, pemelajar memilih satu pilihan dari daftar pilihan jawaban. Tidak seperti soal pilihan ganda, di mana pilihan jawaban selalu terlihat langsung di bawah pertanyaan, opsi jawaban untuk jenis asesmen dropdown tidak muncul sampai pemelajar menekan panah dropdown dan memilih opsi jawaban.
Tipe asesmen dropdown hanya dapat memiliki satu jawaban yang benar per pertanyaan dari beberapa opsi jawaban yang disediakan. Contoh asesmen dropdown sebagai berikut.
20 - Jenis Asesmen DropdownBerikut adalah cara mengembangkan asesmen dropdown dengan feedback
21 - Cara mengembangkan asesmen dropdown dengan feedback
d. Numerical Input with Hints and Feedback
Dalam asesmen jenis ini, pemelajar memasukkan angka atau ekspresi matematika yang spesifik dan relatif sederhana untuk menjawab suatu pertanyaan. LMS secara otomatis mengubah jawaban yang dimasukkan pemelajar menjadi ekspresi simbolis yang muncul di bawah bidang respons.
Tanggapan untuk masalah input numerik dapat mencakup bilangan bulat, pecahan, dan konstanta seperti pi dan g. Respons juga dapat mencakup teks yang mewakili fungsi umum, seperti akar kuadrat (sqrt) dan basis log 2 (log2), serta fungsi trigonometri dan kebalikannya, seperti sinus (sin) dan arcsinus (arcsin). Untuk fungsi tersebut, pemelajar memasukkan teks yang diubah menjadi simbol matematika. Contoh berikut menunjukkan respons yang dimasukkan oleh pemelajar dan ekspresi numerik yang dihasilkan.
Keterangan :
Seorang pemelajar mengetik n*x^(n-1) untuk memasukkan ekspresi simbolis n kali x ke pangkat n dikurangi 1.
Contoh asesmen numerical input with hints and feedback sebagai berikut.
22 - Jenis Asesmen Numerical Input with Hints and FeedbackBerikut adalah cara mengembangkan asesmen numerical input with hints and feedback.
23 - Cara mengembangkan asesmen Numerical Input with Hints and Feedback
e. Text Input with Hints and Feedback
Dalam asesmen jenis ini, pemelajar memasukkan teks ke dalam kolom jawaban. Jawaban dapat mencakup angka, huruf, dan karakter khusus seperti tanda baca. Karena teks yang dimasukkan pemelajar harus sama persis dengan jawaban yang ditentukan, termasuk ejaan dan tanda baca, Disarankan dosen menentukan lebih dari satu jawaban yang benar, sehingga memungkinkan perbedaan dalam kesalahan huruf besar dan ketik.
Contoh asesmen Text Input beserta feedback sebagai berikut.
24 - Jenis Asesmen Text Input with Hints and FeedbackBerikut adalah cara mengembangkan asesmen Text Input with Hints and Feedback
25 - cara mengembangkan asesmen text input with hints and feedbackPengaturan Grading
Gunakan topik di bagian ini untuk mempelajari tentang menyiapkan penilaian untuk kursus Anda. Menetapkan kebijakan penilaian memerlukan beberapa langkah, termasuk memutuskan apakah akan menyertakan bagian yang tidak dinilai dalam kursus Anda. Di bawah ini merupakan cara pengaturan grading/penilaian.
26 - Tampilan akses pengaturan grading/penilaian
a.Pengaturan Overall Grade Range
Dosen pengampu harus mengatur rentang nilai untuk kelulusan mata kuliah (lulus atau gagal). Kontrol untuk rentang nilai ada di bagian atas halaman Penilaian seperti contoh di bawah ini.
27 - kontrol rentang nilaiContoh di atas menunjukkan bahwa dosen pengampu mengatur rentang nilai lulus dan gagal, misalnya skor minimal lulus (passing grade) 50. Dosen pengampu dapat menyesuaikan rentang skor kelulusan sesuai kebutuhan dengan cara menggeser garis batas ke kiri atau ke kanan. Anda dapat melihat nomor rentang dari dua nilai yang berdekatan dengan perubahan garis. Batalkan pilihan baris saat berada di tempat yang Anda inginkan. Setelah Anda membuat perubahan pada rentang nilai, Anda harus memilih Save Changes di bagian bawah halaman untuk menyimpan perubahan.
b. Masa Tenggang
Dosen Pengampu tidak mengatur masa tenggang penilaian asesmen pembelajaran self-paced.
c.Konfigurasikan Komponen Grading
Dosen pengampu harus menentukan komponen grading beserta bobotnya. Misalnya, dosen pengampu mengatur komponen, yakni:
- 12 tugas yang disingkat menjadi TG dengan bobot 30%,
- Satu (1) ujian tengah semester yang disingkat menjadi UTS dengan bobot 30%,
- Satu (1) ujian akhir semester yang disingkat menjadi UAS dengan bobot 40%.Dengan demikian, total keseluruhan dari tiga (3) komponen grading memiliki bobot 100%. Sistem platform memberikan pilihan kepada dosen pengampu untuk menggunakan fitur Number of Droppable. Number of Droppable adalah fitur yang memungkinkan dosen pengampu untuk mengatur jumlah aktifikas penugasan yang tidak dihitung dalam komponen grading. Misalnya, dari 12 tugas terdapat 1 Number of Droppable. Ini berarti hanya akan ada 11 tugas yang dihitung dalam komponen tugas. Tugas yang masuk dalam Number of Droppable ditentukan dari nilai tugas dengan skor terendah terlebih dahulu.
d. Mengaktifkan Grading Pada Subsection Asesmen.
Setelah dosen pengampu mengkonfigurasikan Komponen Grading pada mata kuliah, dosen pengampu mengaktifkan fitur grading pada masing masing komponen pembelajaran yang masuk dalam komponen grading. Seperti contoh di bawah ini.
29 - Contoh mengaktifkan grading pada subsection asesmenPada gambar di atas dapat dilihat fitur grading telah aktif dengan tampilan centang (√ ) pada komponen komponen pembelajaran yang masuk dalam komponen grading.
Evaluasi Program Matakuliah Daring
Pada akhir seluruh kegiatan pembelajaran, dosen dan tim program studi mengevaluasi penyelenggaraan proses pembelajaran yang telah selesai. Kegiatan evaluasi sangat penting untuk mendapatkan data apakah pembelajaran yang telah selesai diselenggarakan berhasil atau memerlukan perbaikan untuk perkembangan yang lebih baik di masa yang akan datang. Elemen-elemen yang harus dievaluasi dari pembelajaran yang telah diselengarakan oleh universitas mitra pada ICE Institute mengadopsi model empat tingkat kerangka evaluasi dari Kirkpatrick (1998) yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
30 - Empat tingkat model evaluasi Kirkpatrick (1998) (sumber gambar: https://kodosurvey.com/)| Skala | Skala Interval | Deskripsi |
|---|---|---|
| 5 | 4.21 - 5.00 | Very High (VH) |
| 4 | 3.41 - 4.20 | High (H) |
| 3 | 2.61 - 3.40 | Moderate (M) |
| 2 | 1.81 - 2.60 | Low (L) |
| 1 | 1.00 - 1.80 | Very Low (VL) |
Tingkat Evaluasi Pertama
Tingkat Evaluasi Pertama adalah dengan mengevaluasi reaksi dari peserta. Apakah peserta nyaman dengan pembelajaran yang mereka ikuti. Contoh: Pertanyaan Evaluasi Reaksi Peserta
32 - Tingkat evaluasi pertamaTingkat Evaluasi Kedua
Tingkat evaluasi kedua adalah dengan mengevaluasi apakah transfer pembelajaran/ pengetahuan/ keterampikan terjadi pada diri peserta. Contoh: Pertanyaan Evaluasi transfer pembelajaran
| Indikator | Skor Rata-rata | Deskripsi |
|---|---|---|
| 1. Saya memperoleh keterampilan tentang bagaimana menangani masalah melalui pelatihan. | ||
| 2. Saya memahami semua konsep yang disajikan dalam pelatihan | ||
| 3. Saya dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang saya pelajari dari pelatihan di rumah dan di tempat kerja | ||
| 4. Para pembicara mampu menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang memperdalam pemahaman saya dengan jelas. | ||
| 5. Keterampilan presentasi pembicara membantu saya memahami masalah yang kompleks | ||
| 6. Saya perhatikan bahwa pelatihan itu mengubah rekan-rekan saya dalam berurusan dengan orang lain |
Tingkat Evaluasi Ketiga
Tingkat evaluasi ketiga adalah dengan mengevaluasi apakah pembelajaran mengubah perilaku peserta. Contoh: Pertanyaan Evaluasi dampak perilaku peserta
| Indikator | Skor Rata-rata | Deskripsi |
|---|---|---|
| 1. Saya menerapkan konsep yang saya pelajari dari pelatihan dalam pekerjaan saya sehari-hari. | ||
| 2. Saya melihat perubahan perilaku rekan kerja saya setelah pelatihan. | ||
| 3. Dibandingkan sebelumnya, saya sekarang termotivasi untuk berbicara tentang suatu masalah. | ||
| 4. Setelah pelatihan, saya sekarang melakukan tugas-tugas yang seharusnya untuk posisi saya. | ||
| 5. Pelatihan mengubah cara kerja saya dengan rekan kerja saya. | ||
| 6. Saya memiliki lebih banyak rasa hormat sekarang daripada sebelumnya. |
Tingkat Evaluasi Keempat
Tingkat evaluasi keempat adalah dengan mengevaluasi apakah pembelajaran yang telah diselenggarakan memengaruhi kinerja, keterampilan, atau pengetahuan peserta. Contoh: Pertanyaan Evaluasi dampak kinerja
| Indikator | Skor Rata-rata | Deskripsi |
|---|---|---|
| 1. Tim telah mencapai tujuannya dalam melakukan pelatihan di perguruan tinggi. | ||
| 2. Saya yakin semua peserta puas dengan hasil pelatihan yang dilakukan. | ||
| 3. Melalui pelatihan, kesenjangan pengetahuan di perguruan tinggi dapat diperbaiki. | ||
| 4. Pelatihan yang terorganisir dengan baik. | ||
| 5. Pembicara yang diundang untuk pelatihan ini adalah para ahli. | ||
| 6. Secara keseluruhan, pelatihan Sensitivitas Gender dilakukan |
Contoh Evaluasi Lainnya
Beberapa contoh angket untuk mengevaluasi penyelenggaraan pembelajaran daring dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia
36 - Contoh beberapa butir angket untuk mengevaluasi penyelenggaraan pembelajaran daring dari STIKES Kendedes 37 - Contoh beberapa butir angket untuk mengevaluasi pembelajaran daring Universitas TerbukaReferensi
Afify, M. K. (2018). The impact of interaction between timing of feedback provision in distance e-learning and learning styles on achieving learning outcomes among Arab open university students. EURASIA Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 14(7), 3053-3068.
Ahmed, F., Ali, S., Shah, R.A. (2019). Exploring variation in summative assessment: language teachers’ knowledge of students' formative assessment and its effect on their summative assessment. Bulletin of Education and Research August 2019, 41(2), pp. 109-119
Allal, L. (2011). Assessment for learning culture in the classroom, and beyond. Paper presented at the 4th Assessment for Learning conference, Bergen, Norway.
Assessment Reform Group (ARG). (2002). Assessment for learning: 10 principles (leaflet printed by the ARG).
Bray, B., & McClaskey, K. (2010). Personalization vs. differentiation vs. individualization. Mid-Pacific Institute, 1(1).
Chaeruman, U. A. (2018). PEDATI model desain sistem pembelajaran blended. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
Evans, N. W., Hartshorn, K. J., McCollum, R. M., & Wolfersberger, M. (2010). Contextualizing corrective feedback in second language writing pedagogy. Language Teaching Research, 14(n.d.), 445–463.
Gallien, T. & Oomen-Early, J. (2008). Personalized versus collective instructor feedback in the online classroom: does type of feedback affect student satisfaction, academic performance and perceived connectedness with the instructor? International Journal on eLearning, 7(3), 463–476.
Garrison, D. R., Anderson, T., & Archer, W. (2000). Critical inquiry in a text-based environment: Computer conferencing in higher education model. The Internet and Higher Education, 2(2-3), 87-105.
Gerlich, R.N., Mills, L.H., & Sollosy, M. (2009). An evaluation of predictors of achievement on selected outcomes in a self-paced online course. Research in Higher Education Journal, 4(n.a.), 1-14.
Gregory, J. B., Levy, P. E., & Jeffers, M. (2008). Development of a model of the feedback process within executive coaching. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 60(1), 42–56.
Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81–112.
Kirkpatrick, D. L. (1998). Evaluating Training Programs: The four levels. San Francisco: Berrett-Koehler
Lee, J. (2014). An exploratory study of effective online learning: Assessing satisfaction levels of graduate students of mathematics education associated with human and design factors of an online course. International Review of Research in Open & Distance Learning, 15(1), 1–23.
Morris, C. & Chikwa, G. (2016). Audio versus written feedback: Exploring learners’ preference and the impact of feedback format on students’ academic performance. Active Learning in Higher Education, 17(2) 125–137.
Southard, S., Meddaugh, J., and France-Harris, A., (2015). Can SPOC (self-paced online course) live long and prosper? A comparison study of a new species of online course delivery. Online Journal of Distance Learning Administration 18(2), 8
Tanis, C. J. (2020). The seven principles of online learning: Feedback from faculty and alumni on its importance for teaching and learning. Research in Learning Technology, 28(n.d.), 1-25.



























